Budaya melayu
Identitas Individu
Sebagai individu setiap orang memiliki identitas sendiri yang
membedakan dirinya dari individu-individu lain dalam masyarakatnya.
Seorang itu dapat membangun image atau identitas diri dengan berbagai
cara berdasarkan kemampuan masing-masing. Pengenalan diri yang berbasis
identitas dapat diteliti pada pakaian, gaya perlakuan, suaranya, cara
berjalan, dan berbagai hal.
Seseorang individu itu dapat membangun image atau identitas, yang
menunjukkan karakteristik identitasnya dengan berbagai cara. Image atau
identitas seseorang yang populer dan dikenal banyak dalam masyarakat
itu sering ditiru atau mencoba diikuti orang lain pula. Misalnya,
identitas seorang penyanyi populer dengan mudah pula dapat mempengaruhi
penggemar-penggemarnya.
Identitas di tingkat individu itu merupakan pengenalan image yang
dibangun secara sadar atau tidak sadar, sebagai menyatakan posisinya
sebagai individu dan anggota masyarakat.
Individu dan Budaya
Seorang itu sebagai anggota masyarakat dipengaruhi nilai-nilai
sosial, yang mendorong nilai-nilai itu bagai memungkinkannya hidup dalam
masyarakatnya. Jadi, individu itu mempelajari dan menerima budayanya.
Nilai-nilai sosial sebagai inti budaya memainkan peran penting dalam
menyatakan identitas budaya itu. Image atau identitas yang dibangun oleh
individu itu adalah tidak terpisah dari budayanya.
Namun individu turut berperan dalam menyumbangkan nilai-nilai
sosial dalam membangun identitas itu. Dengan kata lain, individu itu
sebagai anggota masyarakat dapat membawa perubahan atau memperkuat
identitas masyarakat dan budayanya.
Identitas masyarakat dan budaya itu dibangun oleh individu.
Anggota-anggota masyarakat memiliki tanggung jawab penting dalam
menentukan identitas masyarakat dan budayanya. Sebaliknya berbasis
identitas yang dibangun itu sering menerngkan sifat anggota masyarakat.
Melaluinya juga sesuatu masyarakat dan budaya dikenal umum.
Identitas individu dan masyarakat itu turut menyatakan
nilai-nilai sosial. Pengenalan diri yang melibatkan perasaan atau
nilai-nilai individu dan nilai-nilai sosial dibangun demikian sehingga
terbina image atau identitas masyarakat dan budaya.
Identitas dan Perubahan Budaya
Anggota-anggota masyarakat dipupuk nilai dan norma sosial melalui
proses sosial atau proses sosialisasi. Melaluinya identitas masyarakat
dan budaya dapat dipertahankan. Individu sebagai anggota masyarakat
menyadari identitas masyarakat dan budayanya yang berbeda dari
masyarakat dan budaya lain.
Dalam masyarakat itu ada pula kelompok-kelompok sosial yang
membangun image dan identitas tersendiri. Sebagai anggota ke kelompok
sosial itu, dalam membangun kesadaran rasa kekitaan, maka ia berusaha
mempertahankan image atau identitas kelompoknya. Berbagai kelompok
sosial dalam suatu masyarakat itu membangun sub budaya yang membangun
kesatuan di tingkat masyarakat dan budaya yang lebih luas. Sub budaya
yang berbagai dalam masyarakat Melayu itu merupakan harta yang
menyatakan kekayaan budaya Melayu itu.
Masyarakat berusaha mempertahankan identitasnya yang menyatakan
dengan jelas kekuatan masyarakat itu. Identitas itu ingin dipertahankan
selamanya. Selain itu, anggota-anggota masyarakat menginginkan
perubahan. Perubahan yang terjadi itu menyatakan dengan jelas tentang
budaya itu dinamis. Tapi perubahan yang terjadi itu tidak pula
menghilangkan identitas yang diwarisi sejak sekian lama. Dalam perubahan
yang terjadi masih dapat diteliti identitas yang dipertahankan. Budaya
Melayu yang dinamiks, berkemampuan menerima dan menyesuaikan dengan
perubahan, tetapi mempertahankan identitas Melayu sejak sekian lama.
Dengan tu dapat dikatakan, tidak Melayu hilang di dunia.
Identitas dan Prasangka
Identitas masyarakat dan budaya yang dibangun itu diakui dan
disadari anggota-anggota masyarakat. Mereka bangga dengan identitas
budaya yang mereka warisi dan mereka bina sekian lama. Malahan mereka
berusaha menonjolnya, untuk dikenal hingga ke tingkat global. Tradisi
yang diwarisi itu memiliki nilai-nilai yang tinggi yang ingin
dipertahankan.
Dalam membangun identitas seperti di atas itu berarti
anggota-anggota masyarakat melihat dan mengevaluasi ke dalam masyarakat
dan budaya sendiri yang selalu dipandang tinggi. Sebaliknya mereka juga
melihat keluar, yaitu melihat masyarakat dan budaya lain. Dalam melihat
keluar atau orang luar melihat budaya Melayu, kerapkali melibatkan
prasangka, yaitu melihat identitas budaya lain berbasis sentiman,
misalnya meremehkan masyarakat dan budaya lain dalam konteks
mengagongkan budaya sendiri. Adakala prasangka itu tidak berbasis
realitas, tetapi semata-mata timbul dari sentiman yang terbina dalam
masyarakat. Adakala prasangka itu dibangun berbasis kepentingan
tertentu.
Malaysia yang terdiri dari berbagai kelompok ethnik, dapat
menimbulkan prasangka antara satu dengan yang lain dan seterusnya dapat
membawa dampak dalam hubungan antara kelompok ethnik itu. Jadi usaha
dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi prasangka buruk antara satu
dengan yang lain.
Orang luar yang melihat orang Melayu secara eksternal,
sebagaimana yang pernah ditulis oleh orang-orang barat masa lalu,
adakala menggambarkan orang Melayu sangat buruk. Mereka tidak memahami
masyarakat dan budaya Melayu. Pandangan mereka berbasis budaya mereka,
dan inilah yang dikatakan ethnocentric.
Kelompok mayoritas dan kelompok minoritas
Kelompok mayoritas, seperti orang Melayu di Malaysia mewarisi
tradisi budaya dan berusaha mempertahankan identitas Melayu dalam
berbagai lapangan. Tradisi budaya memainkan peran penting dalam
menentukan lambang identitas yang diperturunkan dari satu generasi ke
generasi berikut. Kelompok mayoritas itu menentukan identitas. Meskipun
perubahan terjadi, tetapi kelompok itu berusaha mempertahankan
identitas.
Kelompok Melayu minoritas, terutama di luar alam Melayu ini
tersedia tidak mampu untuk mempertahankan identitas Melayu seperti
kelompok mayoritas itu. Kelompok minoritas itu sering dipengaruhi
masyarakat dan budaya mayoritas sehingga kelompok itu tidak mampu untuk
mempertahankan identitas. Ketika generasi baru mengambil tempat dalam
kelompok minoritas itu, maka kaitan dengan identitas itu ditemukan
semakin lemah dan dalam jangka waktu yang lama identitas Melayu yang
asli itu bisa hilang. Bandingkan dengan kelompok Melayu di Afrika
Selatan, Sri Lanka dan lain-lain.
Krisis Identitas
Dalam masyarakat Melayu yang cepat mengalami proses perubahan,
terutama tekanan dari peradaban asing dan proses globalisasi,
anggota-anggota masyarakat menghadapi masalah dalam mempertahankan
tradisi. Mereka menghadapi krisis dalam mempertahankan tradisi sebagai
menyatakan lambang identitas masyarakat dan budaya Melayu. Dalam
menghadapi perubahan itu, sering unsur-unsur budaya tradisi disisihkan,
dan gaya hidup modern menjadi pilihan. Dalam kondisi menghadapi krisis
identitas itu, ada pula gerakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang
mempertahankan identitas, terutama unsur-unsur budaya tradisi yang
diwarisi sekian lama.
Krisis identitas juga turut dialami di tingkat individu. Dalam
pesatnya perubahan yang melanda orang-orang Melayu, turut membawa dampak
kepada individu, dalam menentukan bahwa perubahan yang terjadi itu
tidak ketinggalan, maka ia juga menghadapi krisis dalam mempertahankan
tradisi.
Krisis identitas ini turut dialami individu yang orangtuanya
bukan Melayu. Ia mengalami masalah dalam menentukan identitas, sebelah
ibunya atau sebelah ayahnya. Dalam kondisi ini sering identitas yang
lebih dominan mempengaruhi seseorang.
Mencari dan Mengenali Identitas
Dalam membangun identitas sebagaimana yang telah disebutkan
sebelumnya dapat dilakukan secara eksternal, melalui penampilan fisik
dan sesuatu yang dihasilkan dalam melambangkan identitas itu didasarkan
pada struktur eksternal. Selain itu, identitas itu juga melibatkan
secara internal, yaitu jiwa Melayu itu. Jadi dalam mengenali identitas
itu perlu juga dipahami aspek internal, yaitu struktur internal
sebagaimana yang dinyatakan oleh anggota-anggota masyarakat.
Kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat itu adakala berusaha
membangun identitas sendiri sebagai melambangkan kekuatan kelompok
sosial itu. Dalam membangun identitas itu berbagai cara pernah
dilakukan, misalnya melalui agama kelompok sosial itu menyatakan
lambang-lambang tersendiri, di samping memupuk nilai-nilai sosial yang
terkait. Ada kelompok pula amat terpengaruh dengan modernitas barat dan
menyatakan identitas berbasis nilai-nilai itu. Namun kelompok-kelompok
sosial itu tidak terpisah dari masyarakat dan budaya Melayu yang
dianggap dominan.
Identitas Sosial dan Identitas Budaya
Masyarakat membangun identitas berbasis berbagai aspek kehidupan,
termasuk aspek sosial dan budaya. Dengan berbagai aspek kehidupan itu
secara keseluruhan dalam konteks yang lebih luas masyarakat itu
membangun identitas.
Antara aspek atau sistem yang memberikan kontribusi kepada pembangunan identitas itu adalah seperti dinyatakan di bawah:
(1) Kekeluargaan dan pernikahan - termasuk dalam menyusur galur keturunan.
(2) Sistem sosial - struktur sosial, meliputi aspek Hiraki sosial, status sosial - tradisi dan modern.
(3) Sistem kepemimpinan dan politik - posisi pemimpin.
(4) Agama dan kepercayaan - termasuk simbol / lambang yang terkait seperti masjid.
(5) Sistem ekonomi - termasuk demografi. Kegiatan cari makan, budaya kerja dan sebagainya. Penempatan desa - kota.
(6) Simbol status / kelas sosial. Kekayaan, kekuasaan.
(7) Pakaian, makanan.
Berbasis identitas budaya pula termasuk nilai dan norma sosial,
adat, dan sejenisnya, atau dalam konteks visual dan bukan materi.
Melihat ke hal-hal yang dijelaskan di atas itu, identitas masyarakat dan budaya itu meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Pandangan Orang Luar tentang Orang Melayu
Isabella Bird, (The Golden Chersonese, Oxford University Press)
seorang wisatawan Inggris telah menceritakan tentang orang Melayu Perak
saat ia mengunjungi negara itu pada abad ke 19. Dia menjelaskan orang
Melayu tinggal di desa berkonsentrasi kepada pekerjaan bertani dan
menangkap ikan. Mereka tidak suka tinggal di kota. Rumah dan desa mereka
di tepi hutan dan di tepi sungai. Mereka menyukai kebebasan untuk
bergerak. Rumah mereka dibangun agak berjauhan antara satu dengan yang
lain. Rumah dibangun di atas tiang, dinding rumah terbuat dari kayu yang
telah diketam, atap rumah dari daun nipah yang disirat. Atap rumah agak
tinggi dan curam. Rumah orang miskin dan orang kaya tidak jauh berbeda,
kecuali tangga rumah orang miskin dibangun dari kayu dan rumah orang
kaya dari batu. Rumah mereka tidak banyak ruang, tersedia ruang tamu
juga digunakan sebagai tempat tidur. Dalam rumah tidak banyak furnitur.
Tikar digunakan sebagai tempat duduk. Lantai rumah pula dipasang
renggang sehingga udara dapat beredar ke dalam rumah dan sampah dan sisa
makanan dapat disapu ke bawah rumah tuntuk dimakan oleh ayam. Pada
waktu malam nyamuk di keliling dapat dihalau dengan memasang api unggun
di bawah rumah.
Tersedia rumah Melayu itu membela monyet yang digunakan untuk
memetik kelapa. Selanjutnya Bird juga menjelaskan pria Melayu bersifat
pendiam, cemburu, curiga dan pembelot. Perempuan pula berbadan kecil,
pembersih dan bergiat dalam kegiatan ekonomi seperti menganyam tikar dan
keranjang. Pakaian mereka dari sutra atau katun yang menutup bagian
lutut sampai leher.
Paras Melayu berkulit sawo matang, kening mereka rendah, tulang
pipi tinggi, hidung datar, mulut lebar dengan bibir tebal. Rambut hitam
mengkilap dan rambut perempuan pula disiput.
Perempuan Melayu dikatakan malas bekerja, hasil penjualan tikar
dan buahan mereka membeli kain baju. Perempuan suka memakai sarung
berwarna merah dan bergaris-garis. Baju kebaya dikenakan bros yang
terbuat dari perak, emas atau permata. Sanggul rambut atau siput rambut
disematkan pin sanggul. Kain yang dipakai perempuan diikat dengan sabuk
yang terbuat dari perak atau emas bertatahkan permata. Bagi pria pula
memakai sarung dan baju Melayu dan di kepala mereka memakai destar.
Hukum mereka adalah berpusat hukum Islam. Bird juga mengutip
pendapat seorang pejabat Inggris yang bernama Capt. Shaw, yang
menyatakan orang Melayu itu lembut, halus, lurus dan peramah, serta
mementingkan harga diri. Mereka sensitif dan sanggup membunuh untuk
menjaga dan mempertahankan harga diri dan keluarga. Mereka beragama
Islam dan cita-cita utama mereka adalah untuk menunaikan haji ke Mekah.
Ada di antara mereka yang telah ke Mekah beberapa kali. Di sekeliling
rumah ditanami pohon buahan seperti nangka, durian, sukun, mangga,
pisang dan lain-lain. Mereka menghabiskan waktu dengan mendengarkan
musik, cerita atau mengadakan ritual keagamaan. Setiap masjid ada
kariahnya dan setiap kariah ada 44 buah rumah. Kalau ada desa yang
hendak membangun masjidnya sendiri harus ada 44 buah rumah. Hal-hal
agama diserahkan kepada Imam yang juga melaksanakan tugas-tugas terkait
pernikahan dan kematian. Kenduri sering diadakan seperti pada saat
kelahiran, memotong jambul, perkhatanan dan pernikahan. Dan pada waktu
kenduri ini biasanya disembelih kerbau. Dari segi kepercayaan, orang
Melayu sangat percaya kepda hantu, pawang, dukun dan tanda-tanda
baik-buruk. Misalnya, orang Melayu percaya adanya hantu, harimau
jadi-jadian dan sebagainya. Orang Melayu juga percaya kepada keujudan
pelesit, polong dan lain-lain. Burung pungguk dikatakan burung hantu.
Penanggalan pula dalam bentuk wanita, kepalanya dilepas dan meninggalkan
tubuh untuk pergi mencari darah perempuan yang baru melahirkan. Orang
Melayu juga percaya efek pesona yang dipakai pada tubuh mereka. Bagi
Bird, yang paling penting untuk menjelaskan identitas orang Melayu
adalah keris dan konsep amuk. Keris dilihat sebagai senjata dan simbol
diri atau kejantanan pria Melayu. Amuk juga dikaitkan dengan hargadiri.
Orang mengamuk jika harga dirinya dicemooh atau diperendahkan, ataupun
dirinya dan keluarganya malu. Mereka mengamuk karena pandangan mereka
menjadi gelap dan tidak tahan menanggung malu dan celaan tersebut.
Orang Melayu menurut F. Swettenham ("The Real Indonesian") dalam
Stories and Sketches by Sir F. Swettenham; selected and introduced by
William Roff, Oxford University Press) adalah sebagaimana berikut ini:
Untuk memahami orang Melayu dengan mendalam, Swettenham
berpendapat, seseorang itu harus tinggal di antara mereka, menghormati
agama dan kepercayaan mereka, meminati kecenderungan mereka, harus
bersifat toleransi dan jangan memandang sinis terhadap prasangka mereka,
bersimpati dan membantu mereka ketika mereka dalam kesusahan dan kalau
bisa tidak hanya berbagi kesenangan mereka tetapi juga risiko yang
mereka hadapi. Hanya dengan cara ini saja seseorang dapat memperoleh
kepercayaan dan keyakinan orang Melayu. Melalui keyakinan ini saja
seseorang itu akhirnya bisa memahami hati budi orang Melayu, terutama
bersifat batiniah itu.
Orang Melayu yang sebenarnya, adalah pendek, berbadan tegap dan
gempal. Rambutnya lurus hitam, kulit sawo matang, hidung dan bibirnya
tebal dan matanya cerah dan tampak cerdik. Tingkahlakunya lemah lembut
dan mudah untuk didampingi. Orang Melayu bersifat curiga terhadap orang
luar tetapi tidak menunjukkan sikap tersebut secara terbuka. Orang
Melayu berani dan dapat dipercaya menjalankan kewajibannya dengan baik.
Namun dia bersifat boros dan suka meminjam uang tetapi lambat
membayarnya kembali. Dia sopan dan bijak berbicara, pandai berkias (dan
mungkin juga menyindir), sering mengutip peribahasa dan kata-kata
hikmah, pandai melawak dan bercanda dan menyukai kepada humor yang baik.
Orang Melayu suka ambil tahu hal orang lain, terutama tetangganya. Jadi
orang Melayu dikatakan kuat gosip atau suka menjaga tepi kain orang
lain. Orang Melayu beragama Islam dan pada pendapat Swettenham ini
menyebabkan mereka bersifat fatalistik, yaitu percaya kepada qada 'dan
qadar (nasib dan rezeki ditentukan Allah). Tetapi pada saat yang sama
mereka juga percaya pada hal-hal takhayul dan takhayul yang bertentangan
dengan Islam. Dia tidak minum alkohol dan jarang sekali mengisap candu
tetapi dia amat minat berjudi, apakah menyabung ayam atau
permainan-permainan yang ada unsur taruhan.
Tentu orang Melayu adalah olahragawan. Mereka suka dan tertarik
menangkap dan menjinakkan gajah. Mereka juga merupakan seorang nelayan
atau penangkap ikan yang efisien. Dari satu segi orang Melayu
konservatif, bangga dan megah terhadap negerinya dan masyarakatnya.
Mereka menyanjung adat dan tradisi lama masyarakat Melayu. Mereka takut
kepada Raja, hormat dan tunduk kepada kekuasaan. Orang Melayu memandang
rendah kepada setiap reformasi dan sejauh mungkin akan menolak setiap
pengenalan perubahan secara mendadak. Sebaliknya, jika mereka diberi
waktu untuk memeriksa dan menelitinya dan perubahan tersebut tidak
dipaksa ke atas mereka, mereka dapat diyakinkan tentang keuntungan dan
manfaat yang dapat dicapai melalui reformasi-reformasi tersebut. Orang
Melayu cepat mempelajari ilmu yang diajarkan kepadanya. Bagi Swettenham,
jika orang Melayu ingin dan juga ambisius dia bisa menjadi seorang
mekanik yang baik. Namun orang Melayu malas. Dia tidak memiliki
perencanaan yang teratur di dalam hidupnya. Dia tidak tahu tentang
ketepatan waktu termasuk juga waktu makannya. Padanya waktu itu tidak
penting. Rumah orang Melayu tidak tersusun dan kotor tetapi dia mandi
dua kali sehari. Dia juga suka berhias dan memakai pakaian yang rapi.
Orang Melayu tidak toleran kepada setiap penghinaan. Baginya malu yang
diterima hanya bisa dibersihkan dengan darah. Dia akan masam muka dan
memendam rasa ketika kewibawaannya dan menghormatinya tersentuh atau
tergores sehingga dia dikuasai oleh perasaan ingin membalas dendam. Jika
dia tidak dapat membalas pada orang tersebut atau terkait dia akan
mengancam orang pertama yang ditemuinya, tidak peduli pria atau
perempuan, tua atau muda. Inilah yang dikatakan amuk. Semangat kesukuan
kuat di kalangan orang Melayu. Dia taat dan setia kepada Raja, Penghulu
dan pemimpin. Pemberian karunia oleh Raja kepada rakyat dan pemberian
hadiah dari rakyat kepada Raja adalah satu praktek yang biasa.
Meskipun orang Melayu beragama Islam dan sanggup dipaku
hidup-hidup dari menolak agamanya, orang Melayu bukannya menganggap
agama orang lain rendah. Dia juga bukan seorang hipokrit. Kehidupannya
akan mengalami siklus hidup berikut:
Pada masa kecil dia dirawat dengan baik, dia tidur bila dia suka
dan makan ketika dia merasa lapar (elemen waktu tidak penting). Dia
jarang dipukul atau dicambuk, oleh itu dia jarang menangis. Pada usia 15
atau 16 tahun dia rajin belajar dan dikirim mengaji Qoran bahkan
mengaji dalam bahasa yang dia tidak mengerti. Pada umur di antara 16
sampai 25 tahun dia harus dihindari karena pada usia ini dia suka
bersuka-sukaan, foya, boros, pemurah, suka berjudi, banyak terikat
dengan utang, sering terlibat dalam melarikan istri tetangganya dan suka
menonjol-nonjolkan dirinya . Setelah itu jika dia tidak melanjutkan
dengan perangai buruknya, dia akan mencoba, dengan bantuan orang-orang
yang lebih tua darinya, berusaha memantapkan posisi sosialnya. Jadi,
ketika dia berusia 40 tahun dia akan menjadi seorang manusia yang cerdas
(dan berpengalaman). Anak perempuan itu dibiarkan hidup bebas sampai
usia 5 tahun dan kemudian diberi pakaian yang sempurna. Sejak itu dia
dididik dan diasuh dalam membantu pekerjaan rumah dan dapur. Dia juga
diajarkan turun ke sawah. Tujuannya untuk menyediakan menjadi seorang
istri dan ibu yang baik. Pada usia 15/16 tahun dia menyukai pakaian yang
cantik dan juga sudah tahu memakai perhiasan. Gadis yang belum kahwin
diasuh dan diajarkan untuk menghindari dari berhubungan dengan pria yang
tidak ada tali persaudaraan dengannya. Setelah menikah orang perempuan
Melayu mendapat kebebasan yang seluas-luasnya. Orang Melayu sangat
mementingkan bangsa dan keturunan. Lelaki Melayu dapat kahwin empat dan
dapat menceraikan isteri / isteri-isteri dan menggantikan mereka dengan
istri yang baru. Jika dia mampu dia akan menggunakan kesempatan ini
tetapi pria Melayu jarang-jarang memiliki empat orang istri pada satu
waktu.
Orang Melayu menurut pandangan Hugh Clifford ("The Pople of the
East-Coast" dalam buku, In Court and Kampung) dijelaskan di bawah ini.
Clifford adalah Residen di Pahang dan ia menceritakan tentang
negeri-negeri Pantai Timur yaitu Pahang, Terengganu dan Kelantan.
Meskipun negara-negara terdekat tetapi rakyat negeri-negeri ini jauh
berbeda, baik dari segi penampilan, pakaian, dialek, karakter maupun
kebiasaan. Orang Pahang, menurut Clifford, hanya menggunakan pikiran dan
pikiran mereka untuk mencari jalan berkelahi, berkelahi, bercinta dan
bercumbu dan berjudi, yang mereka tahu dan sadar dilarang oleh agama
Islam. Orang Pahang, jelasnya, adalah seorang penyabung ayam dan pejudi
yang sering terlibat dalam perkelahian. Dia memiliki perasaan bangga
dirinya, bangsanya dan negaranya. Dia kurang arif, kurang agama dan
kurang daya keintelektualannya sehingga dibuat orang Melayu lain bidalan
tentang mereka: kecek anak Melaka; obrolan anak Minangkabau; tipu anak
Rembau; bidaah anak Terengganu; penakut anak Singapura; pencelok anak
Kelantan dan sombong anak Pahang. Namun demikian, orang Pahang juga
banyak kualitas yang baik. Mereka jantan dan berani mati. Kelemahan
mereka adalah di permukaan saja dan mereka jarang mau menyurukkan
kelemahan ini. Mereka sombong! Mereka berpakaian indah dan sebagai
penjudi sering boros. Mereka juga suka bertindak berdasarkan nafsu tanpa
berpikir panjang tentang hasil atau dampak tindakan mereka. Mereka juga
amat taat dan setia kepada Raja. Begitu juga taat setia mereka kepada
seseorang atau orang yang dipercayainya, tegas. Hubungan ini adalah
berbasis saling percaya di antara satu sama lain. Mereka selalu
bergembira dan suka melawak dan bercanda dan bahan tertawa mereka adalah
orang lain (suka menggoda dan mempermainkan orang lain). Mereka tidak
suka membaca atau bekerja. Mereka juga tidak bisa dipaksa membaca Koran.
Mereka juga hanya akan sembahyang setelah dipaksa. Mereka menghadiri
shalat Jumat karena takut kena denda. Kalau bisa orang Melayu tidak mau
bekerja dan tidak akan melakukan apapun pekerjaan walapun dibayar gaji
atau upah yang tinggi dan lumayan. Dia akan melakukannya (kerja) ketika
dia dikerah, yaitu atas permintaan dan suruhan orang-orang besar atau
raja. Pekerjaan kerah tidak dibayar upah dan di dalam banyak kasus
mereka harus membawa makanan sendiri. Kerja Raja dikelek sedangkan kerja
sendiri diabaikan. Mereka akan mengerjakan pekerjaan kerah ini tanpa
keluhan tampaknya itu adalah tugas hakiki mereka. Clifford melihat ini
sebagai satu sifat yang bertentangan dengan jiwa orang Melayu itu. Dari
satu segi, secara sukarela, orang Melayu malas bekerja meskipun imbalan
yang dibayar lumayan tapi dari satu segi yang lain dia sanggup pula
dipaksa bekerja dan menyerahkan tenaganya secara gratis.
Orang Terengganu pula jauh berbeda dari orang Pahang. Paling
utama, mereka menyukai perdamaian dan harmoni. Kegiatan dan minat mereka
adalah untuk bisnis dan perdagangan. Apa yang mereka inginkan adalah
kebenaran dan kebebasan untuk mencari rezeki tanpa diganggu. Namun
demikian, mereka tidak menunjukkan sikap fanatik dan setia membabi buta
seperti yang ditunjukkan oleh orang Pahang, yang akhirnya (yaitu orang
Pahang) terpaksa menanggung bermacam birokrasi, trik dan juga bencana
dari Raja dan kerabat Diraja mereka sendiri. Bagi Clifford, orang
Terengganu hanya tertarik untuk belajar, berdagang dan bertukang. Sejak
kecil lagi dia dibesarkan dalam suasana buku, duit dan tawar menawar
bisnis dan perdagangan. Dikatakan dia tahu memuji dan mengangkat tinggi
nilai dan mutu barang yang akan dijualnya dan menawar atau menurunkan
harga barang yang hendak dibelinya setelah dia pandai berbicara. Orang
Terengganu dilahirkan dalam dunia bisnis dan perdagangan. Dia bisa dan
sanggup berbohong saat berbisnis, tanpa segan dan silu ataupun malu
sehingga mereka terkenal atau dikenal sebagai pembohong yang paling
terkenal di Tanah Melayu.
Jika seorang anak Pahang dibesarkan dalam suasana perang atau
rumor tentang perang, dan dia pula akan bercita-cita ketika besar nanti
ingin menjadi seorang pahlawan terbilang, tetapi berbeda pula dengan
anak Terengganu. Meskipun pria Terengganu memakai senjata tetapi dia
kurang tangkas menggunakan senjata tersebut. Keris yang dipakai hanya
sebagai pelengkap pakaian pria saja. Kondisi ini terjadi karena
masyarakat Terengganu memberi sanjungan yang lebih dan memandang tinggi
mereka yang berpendidikan atau yang memiliki keterampilan-keterampilan
yang spesifik. Jelasnya orang Terengganu memuliakan mereka yang
berpendidikan dan berpengetahuan baik yang menguntungkan mereka di dunia
maupun akhirat. Bagi Clifford, orang pria Terengganu dibesarkan sebagai
pengecut tetapi mereka tidak mau mengakui fakta ini. Pandangan Clifford
ini mungkin tidak adil karena mencintai perdamaian dan tidak suka
bertengkar bukanlah sifat orang yang pengecut. Sebaliknya ia
menggambarkan seseorang yang ingin tinggal di dalam sebuah masyarakat
yang madani.
Namun kinerja dan gambar orang Melayu Terengganu adalah lebih
baik dari orang Melayu lain, bukan hanya di Pantai Timur tetapi juga di
Semenanjung Tanah Melayu. Umumnya, seseorang anak Terengganu itu telah
tamat membaca Koran sebelum pubertas lagi. Pada saat yang sama mereka
juga tahu menulis dan membaca jawi. Jadi masyarakat Terengganu adalah
masyarakat yang mementingkan ilmu. Namun demikian, orang Terengganu
lebih terkenal karena keterampilan mereka dalam bidang kerajinan. Hasil
tangan seperti barang tembaga, senjata dan juga pertukangan mereka
adalah yang terbaik, tercantik dan terhalus di kalangan orang Melayu di
Semenanjung Tanah Melayu. Begitu juga dengan hasil tenunan kain dan
songket mereka. Mereka juga dikatakan pandai membuat barang-barang
tiruan, misalnya, sorban yang diekspor setiap tahun ke Mekah dan dijual
di sana sebagai barang lokal yang dihasilkan oleh Arab Saudi sendiri.
Dari segi pakaian, pakaian orang Terengganu jauh berbeda dari orang
Pahang. Kita bisa kenal orang Terengganu sebelum dia membuka mulutnya.
Namun Clifford tidak menjelaskan apakah yang dimaksudkannya. Namun
begitu, jika kita ingin buat asumsi mungkin pakaian orang Terengganu itu
lebih rapi sesuai dengan pekerjaan mereka sebagai pedagang dan
pedagang.
Orang Kelantan juga memiliki karakteristik mereka sendiri. Bagi
mereka yang bertemu dengan orang Kelantan pertama kali mungkin tidak
akan mengerti tentang tutur-katanya. Orang Kelantan juga tidak mengerti
bahasa orang lain kecuali dialeknya sendiri. Rupa atau tingkat orang
Kelantan sama saja; tidak begitu bersih baik dari segi penampilan maupun
temperamen. Namun dia memiliki temperamen yang baik dan selalu
bergembira. Orang Kelantan kuat dan gagah. Menurut Clifford, ada orang
Kelantan yang dapat memecahkan pintu dengan kepalanya. Misalnya, seorang
pria yang diberi gelar Awang Kepala Keras. Selain itu, dia juga bisa
memikul beban yang berat, mengayuh perahu untuk beberapa jam dan bisa
melakukan pekerjaan lebih dari orang Melayu lainnya. Perilaku orang
Kelantan agak kasar dan tidak sensitif seperti orang Melayu lainnya.
Mereka kurang peduli terhadap perasaan orang lain. Orang Kelantan berani
tapi beraninya membabi buta tanpa memikirkan akan bahaya yang mungkin
dihadapi. Bagi masyarakat lain di Pantai Timur (orang Pahang dan
Terengganu) karakter baik orang Kelantan kewalahan oleh reputasi orang
Kelantan sebagai pencuri, perampok atau penceluk. Saat merampok mereka
dikatakan menggunakan senjata tajam yang dikenal sebagai parang jengok.
Perempuan Kelantan lebih menonjol dari wanita-wanita lain di Tanah
Melayu. Mereka sering terlihat di pasar apakah meniaga atau membeli.
Mereka senang berbicara ramah dengan semua orang dan tidak menunjukkan
sifat-sifat malu yang lazim ditunjukkan oleh perempuan Melayu yang lain.
Ada kalanya kemesraan mereka khusus dengan pelanggan pria bersifat
`flirtatious 'atau kemanja-manjaan. Di Kelantan, lelaki dan perempuan,
lain cara berpakaian mereka jika dibandingkan dengan orang Melayu
lainnya. Orang pria Kelantan tidak memakai baju atau celana sebaliknya
mereka lebih nyaman memakai sarung. Kain sarung diikat singkat sampai ke
lutut dan ketika duduk lutut mereka rentan. Orang perempuan Kelantan
pula suka berkemban dan bagian bahu dan dada sering terkena. Cara
berpakaian begini membuat orang lain menganggap orang Kelantan tidak
beradat dan beradab sopan. Sebelum tahun 1888 orang Kelantan takut ke
Pahang karena orang Pahang menganggap orang Kelantan itu hanya layak
untuk menajamkan matakerisnya saja. Dalam kata lain orang Kelantan itu
baik dibunuh saja. Seperti orang Melayu lain di Pantai Timur, orang
Kelantan juga suka berjudi apakah berlaga ayam, kambing atau kerbau.
Pada keseluruhan bagaimanakah agaknya cara hidup orang Pantai
Timur? Menurut Clifford, di Kelantan, Terengganu dan Pahang, cara hidup
mereka hampir serupa. Di daerah pendalaman rakyatnya lebih lurus dan
amanah, lebih rajin, mengalami prubahan yang sedikit dan hidup mereka
sehari-hari berkisar pada remunerasi hidup semata-mata. Mereka juga
cepat tua. Mereka bangun pagi, bekerja atau istirahat pada siang hari
dan tidur setelah hari malam. Hidup mereka mudah dan sudah pasti
membosankan. Hidup mereka sederhana dan kebanyakan mereka tidak mampu
untuk menikah lebih dari satu. Penduduk yang tinggal di tepi pantai pula
berbeda. Gosip dari istana, cerita-cerita tentang keberanian pahlawan,
diskusi tentang ilmu dan sebagainya memenuhi masa hidup mereka. Bagi
remaja pria, dayang-dayang dan gundek-gundek Raja kondisi dan pergaulan
yang bebas menambahkan lagi kenakalan remaja mereka. Meskipun risikonya
tinggi, remaja ini jarang-jarang ingin melepaskan kesempatan tersebut.
Mereka yang tersedia berkendak dengan gundek Raja bolah dieksekusi.
Orang Melayu menurut pandangan Munshi Abdullah (Kisah Pelayaran
Abdullah: diselenggarakan oleh Kassim Ahmad). Pelayarannya ke Kelantan,
Abdullah telah sempat juga singgah di Pahang (Kota) dan Terengganu
(Kuala Terengganu). Sebagai seorang etnografer dia telah mencatat dengan
detail apa yang dapat diperhatikannya di tiga negara bagian di Pantai
Timur ini. Catatannya ini menarik jika kita bandingkan perbedaan dan
persamaan pandangan tersebut dengan apa yang ditulis oleh Hugh Clifford.
Menurut Abdullah, negeri Pahang seperti sebuah dusun, penuh dengan
tanaman yang menghijau. Tidak ada pasar, toko atau lorong untuk orang
berjalan kaki.



No comments:
Post a Comment