search

  • Web
  • Images
  • News
  • Videos

Saturday, 4 January 2014

budaya melayu

Budaya melayu
Identitas Individu
Sebagai individu setiap orang memiliki identitas sendiri yang membedakan dirinya dari individu-individu lain dalam masyarakatnya. Seorang itu dapat membangun image atau identitas diri dengan berbagai cara berdasarkan kemampuan masing-masing. Pengenalan diri yang berbasis identitas dapat diteliti pada pakaian, gaya perlakuan, suaranya, cara berjalan, dan berbagai hal.
Seseorang individu itu dapat membangun image atau identitas, yang menunjukkan karakteristik identitasnya dengan berbagai cara. Image atau identitas seseorang yang populer dan dikenal banyak dalam masyarakat itu sering ditiru atau mencoba diikuti orang lain pula. Misalnya, identitas seorang penyanyi populer dengan mudah pula dapat mempengaruhi penggemar-penggemarnya.
Identitas di tingkat individu itu merupakan pengenalan image yang dibangun secara sadar atau tidak sadar, sebagai menyatakan posisinya sebagai individu dan anggota masyarakat.
Individu dan Budaya
Seorang itu sebagai anggota masyarakat dipengaruhi nilai-nilai sosial, yang mendorong nilai-nilai itu bagai memungkinkannya hidup dalam masyarakatnya. Jadi, individu itu mempelajari dan menerima budayanya. Nilai-nilai sosial sebagai inti budaya memainkan peran penting dalam menyatakan identitas budaya itu. Image atau identitas yang dibangun oleh individu itu adalah tidak terpisah dari budayanya.
Namun individu turut berperan dalam menyumbangkan nilai-nilai sosial dalam membangun identitas itu. Dengan kata lain, individu itu sebagai anggota masyarakat dapat membawa perubahan atau memperkuat identitas masyarakat dan budayanya.
Identitas masyarakat dan budaya itu dibangun oleh individu. Anggota-anggota masyarakat memiliki tanggung jawab penting dalam menentukan identitas masyarakat dan budayanya. Sebaliknya berbasis identitas yang dibangun itu sering menerngkan sifat anggota masyarakat. Melaluinya juga sesuatu masyarakat dan budaya dikenal umum.
Identitas individu dan masyarakat itu turut menyatakan nilai-nilai sosial. Pengenalan diri yang melibatkan perasaan atau nilai-nilai individu dan nilai-nilai sosial dibangun demikian sehingga terbina image atau identitas masyarakat dan budaya.
Identitas dan Perubahan Budaya
Anggota-anggota masyarakat dipupuk nilai dan norma sosial melalui proses sosial atau proses sosialisasi. Melaluinya identitas masyarakat dan budaya dapat dipertahankan. Individu sebagai anggota masyarakat menyadari identitas masyarakat dan budayanya yang berbeda dari masyarakat dan budaya lain.
Dalam masyarakat itu ada pula kelompok-kelompok sosial yang membangun image dan identitas tersendiri. Sebagai anggota ke kelompok sosial itu, dalam membangun kesadaran rasa kekitaan, maka ia berusaha mempertahankan image atau identitas kelompoknya. Berbagai kelompok sosial dalam suatu masyarakat itu membangun sub budaya yang membangun kesatuan di tingkat masyarakat dan budaya yang lebih luas. Sub budaya yang berbagai dalam masyarakat Melayu itu merupakan harta yang menyatakan kekayaan budaya Melayu itu.
Masyarakat berusaha mempertahankan identitasnya yang menyatakan dengan jelas kekuatan masyarakat itu. Identitas itu ingin dipertahankan selamanya. Selain itu, anggota-anggota masyarakat menginginkan perubahan. Perubahan yang terjadi itu menyatakan dengan jelas tentang budaya itu dinamis. Tapi perubahan yang terjadi itu tidak pula menghilangkan identitas yang diwarisi sejak sekian lama. Dalam perubahan yang terjadi masih dapat diteliti identitas yang dipertahankan. Budaya Melayu yang dinamiks, berkemampuan menerima dan menyesuaikan dengan perubahan, tetapi mempertahankan identitas Melayu sejak sekian lama. Dengan tu dapat dikatakan, tidak Melayu hilang di dunia.
Identitas dan Prasangka
Identitas masyarakat dan budaya yang dibangun itu diakui dan disadari anggota-anggota masyarakat. Mereka bangga dengan identitas budaya yang mereka warisi dan mereka bina sekian lama. Malahan mereka berusaha menonjolnya, untuk dikenal hingga ke tingkat global. Tradisi yang diwarisi itu memiliki nilai-nilai yang tinggi yang ingin dipertahankan.
Dalam membangun identitas seperti di atas itu berarti anggota-anggota masyarakat melihat dan mengevaluasi ke dalam masyarakat dan budaya sendiri yang selalu dipandang tinggi. Sebaliknya mereka juga melihat keluar, yaitu melihat masyarakat dan budaya lain. Dalam melihat keluar atau orang luar melihat budaya Melayu, kerapkali melibatkan prasangka, yaitu melihat identitas budaya lain berbasis sentiman, misalnya meremehkan masyarakat dan budaya lain dalam konteks mengagongkan budaya sendiri. Adakala prasangka itu tidak berbasis realitas, tetapi semata-mata timbul dari sentiman yang terbina dalam masyarakat. Adakala prasangka itu dibangun berbasis kepentingan tertentu.
Malaysia yang terdiri dari berbagai kelompok ethnik, dapat menimbulkan prasangka antara satu dengan yang lain dan seterusnya dapat membawa dampak dalam hubungan antara kelompok ethnik itu. Jadi usaha dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi prasangka buruk antara satu dengan yang lain.
Orang luar yang melihat orang Melayu secara eksternal, sebagaimana yang pernah ditulis oleh orang-orang barat masa lalu, adakala menggambarkan orang Melayu sangat buruk. Mereka tidak memahami masyarakat dan budaya Melayu. Pandangan mereka berbasis budaya mereka, dan inilah yang dikatakan ethnocentric.
Kelompok mayoritas dan kelompok minoritas
Kelompok mayoritas, seperti orang Melayu di Malaysia mewarisi tradisi budaya dan berusaha mempertahankan identitas Melayu dalam berbagai lapangan. Tradisi budaya memainkan peran penting dalam menentukan lambang identitas yang diperturunkan dari satu generasi ke generasi berikut. Kelompok mayoritas itu menentukan identitas. Meskipun perubahan terjadi, tetapi kelompok itu berusaha mempertahankan identitas.
Kelompok Melayu minoritas, terutama di luar alam Melayu ini tersedia tidak mampu untuk mempertahankan identitas Melayu seperti kelompok mayoritas itu. Kelompok minoritas itu sering dipengaruhi masyarakat dan budaya mayoritas sehingga kelompok itu tidak mampu untuk mempertahankan identitas. Ketika generasi baru mengambil tempat dalam kelompok minoritas itu, maka kaitan dengan identitas itu ditemukan semakin lemah dan dalam jangka waktu yang lama identitas Melayu yang asli itu bisa hilang. Bandingkan dengan kelompok Melayu di Afrika Selatan, Sri Lanka dan lain-lain.
Krisis Identitas
Dalam masyarakat Melayu yang cepat mengalami proses perubahan, terutama tekanan dari peradaban asing dan proses globalisasi, anggota-anggota masyarakat menghadapi masalah dalam mempertahankan tradisi. Mereka menghadapi krisis dalam mempertahankan tradisi sebagai menyatakan lambang identitas masyarakat dan budaya Melayu. Dalam menghadapi perubahan itu, sering unsur-unsur budaya tradisi disisihkan, dan gaya hidup modern menjadi pilihan. Dalam kondisi menghadapi krisis identitas itu, ada pula gerakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang mempertahankan identitas, terutama unsur-unsur budaya tradisi yang diwarisi sekian lama.
Krisis identitas juga turut dialami di tingkat individu. Dalam pesatnya perubahan yang melanda orang-orang Melayu, turut membawa dampak kepada individu, dalam menentukan bahwa perubahan yang terjadi itu tidak ketinggalan, maka ia juga menghadapi krisis dalam mempertahankan tradisi.
Krisis identitas ini turut dialami individu yang orangtuanya bukan Melayu. Ia mengalami masalah dalam menentukan identitas, sebelah ibunya atau sebelah ayahnya. Dalam kondisi ini sering identitas yang lebih dominan mempengaruhi seseorang.
Mencari dan Mengenali Identitas
Dalam membangun identitas sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya dapat dilakukan secara eksternal, melalui penampilan fisik dan sesuatu yang dihasilkan dalam melambangkan identitas itu didasarkan pada struktur eksternal. Selain itu, identitas itu juga melibatkan secara internal, yaitu jiwa Melayu itu. Jadi dalam mengenali identitas itu perlu juga dipahami aspek internal, yaitu struktur internal sebagaimana yang dinyatakan oleh anggota-anggota masyarakat.
Kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat itu adakala berusaha membangun identitas sendiri sebagai melambangkan kekuatan kelompok sosial itu. Dalam membangun identitas itu berbagai cara pernah dilakukan, misalnya melalui agama kelompok sosial itu menyatakan lambang-lambang tersendiri, di samping memupuk nilai-nilai sosial yang terkait. Ada kelompok pula amat terpengaruh dengan modernitas barat dan menyatakan identitas berbasis nilai-nilai itu. Namun kelompok-kelompok sosial itu tidak terpisah dari masyarakat dan budaya Melayu yang dianggap dominan.
Identitas Sosial dan Identitas Budaya
Masyarakat membangun identitas berbasis berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek sosial dan budaya. Dengan berbagai aspek kehidupan itu secara keseluruhan dalam konteks yang lebih luas masyarakat itu membangun identitas.
Antara aspek atau sistem yang memberikan kontribusi kepada pembangunan identitas itu adalah seperti dinyatakan di bawah:
(1) Kekeluargaan dan pernikahan - termasuk dalam menyusur galur keturunan.
(2) Sistem sosial - struktur sosial, meliputi aspek Hiraki sosial, status sosial - tradisi dan modern.
(3) Sistem kepemimpinan dan politik - posisi pemimpin.
(4) Agama dan kepercayaan - termasuk simbol / lambang yang terkait seperti masjid.
(5) Sistem ekonomi - termasuk demografi. Kegiatan cari makan, budaya kerja dan sebagainya. Penempatan desa - kota.
(6) Simbol status / kelas sosial. Kekayaan, kekuasaan.
(7) Pakaian, makanan.
Berbasis identitas budaya pula termasuk nilai dan norma sosial, adat, dan sejenisnya, atau dalam konteks visual dan bukan materi.
Melihat ke hal-hal yang dijelaskan di atas itu, identitas masyarakat dan budaya itu meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Pandangan Orang Luar tentang Orang Melayu
Isabella Bird, (The Golden Chersonese, Oxford University Press) seorang wisatawan Inggris telah menceritakan tentang orang Melayu Perak saat ia mengunjungi negara itu pada abad ke 19. Dia menjelaskan orang Melayu tinggal di desa berkonsentrasi kepada pekerjaan bertani dan menangkap ikan. Mereka tidak suka tinggal di kota. Rumah dan desa mereka di tepi hutan dan di tepi sungai. Mereka menyukai kebebasan untuk bergerak. Rumah mereka dibangun agak berjauhan antara satu dengan yang lain. Rumah dibangun di atas tiang, dinding rumah terbuat dari kayu yang telah diketam, atap rumah dari daun nipah yang disirat. Atap rumah agak tinggi dan curam. Rumah orang miskin dan orang kaya tidak jauh berbeda, kecuali tangga rumah orang miskin dibangun dari kayu dan rumah orang kaya dari batu. Rumah mereka tidak banyak ruang, tersedia ruang tamu juga digunakan sebagai tempat tidur. Dalam rumah tidak banyak furnitur. Tikar digunakan sebagai tempat duduk. Lantai rumah pula dipasang renggang sehingga udara dapat beredar ke dalam rumah dan sampah dan sisa makanan dapat disapu ke bawah rumah tuntuk dimakan oleh ayam. Pada waktu malam nyamuk di keliling dapat dihalau dengan memasang api unggun di bawah rumah.
Tersedia rumah Melayu itu membela monyet yang digunakan untuk memetik kelapa. Selanjutnya Bird juga menjelaskan pria Melayu bersifat pendiam, cemburu, curiga dan pembelot. Perempuan pula berbadan kecil, pembersih dan bergiat dalam kegiatan ekonomi seperti menganyam tikar dan keranjang. Pakaian mereka dari sutra atau katun yang menutup bagian lutut sampai leher.
Paras Melayu berkulit sawo matang, kening mereka rendah, tulang pipi tinggi, hidung datar, mulut lebar dengan bibir tebal. Rambut hitam mengkilap dan rambut perempuan pula disiput.
Perempuan Melayu dikatakan malas bekerja, hasil penjualan tikar dan buahan mereka membeli kain baju. Perempuan suka memakai sarung berwarna merah dan bergaris-garis. Baju kebaya dikenakan bros yang terbuat dari perak, emas atau permata. Sanggul rambut atau siput rambut disematkan pin sanggul. Kain yang dipakai perempuan diikat dengan sabuk yang terbuat dari perak atau emas bertatahkan permata. Bagi pria pula memakai sarung dan baju Melayu dan di kepala mereka memakai destar.
Hukum mereka adalah berpusat hukum Islam. Bird juga mengutip pendapat seorang pejabat Inggris yang bernama Capt. Shaw, yang menyatakan orang Melayu itu lembut, halus, lurus dan peramah, serta mementingkan harga diri. Mereka sensitif dan sanggup membunuh untuk menjaga dan mempertahankan harga diri dan keluarga. Mereka beragama Islam dan cita-cita utama mereka adalah untuk menunaikan haji ke Mekah. Ada di antara mereka yang telah ke Mekah beberapa kali. Di sekeliling rumah ditanami pohon buahan seperti nangka, durian, sukun, mangga, pisang dan lain-lain. Mereka menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik, cerita atau mengadakan ritual keagamaan. Setiap masjid ada kariahnya dan setiap kariah ada 44 buah rumah. Kalau ada desa yang hendak membangun masjidnya sendiri harus ada 44 buah rumah. Hal-hal agama diserahkan kepada Imam yang juga melaksanakan tugas-tugas terkait pernikahan dan kematian. Kenduri sering diadakan seperti pada saat kelahiran, memotong jambul, perkhatanan dan pernikahan. Dan pada waktu kenduri ini biasanya disembelih kerbau. Dari segi kepercayaan, orang Melayu sangat percaya kepda hantu, pawang, dukun dan tanda-tanda baik-buruk. Misalnya, orang Melayu percaya adanya hantu, harimau jadi-jadian dan sebagainya. Orang Melayu juga percaya kepada keujudan pelesit, polong dan lain-lain. Burung pungguk dikatakan burung hantu. Penanggalan pula dalam bentuk wanita, kepalanya dilepas dan meninggalkan tubuh untuk pergi mencari darah perempuan yang baru melahirkan. Orang Melayu juga percaya efek pesona yang dipakai pada tubuh mereka. Bagi Bird, yang paling penting untuk menjelaskan identitas orang Melayu adalah keris dan konsep amuk. Keris dilihat sebagai senjata dan simbol diri atau kejantanan pria Melayu. Amuk juga dikaitkan dengan hargadiri. Orang mengamuk jika harga dirinya dicemooh atau diperendahkan, ataupun dirinya dan keluarganya malu. Mereka mengamuk karena pandangan mereka menjadi gelap dan tidak tahan menanggung malu dan celaan tersebut.
Orang Melayu menurut F. Swettenham ("The Real Indonesian") dalam Stories and Sketches by Sir F. Swettenham; selected and introduced by William Roff, Oxford University Press) adalah sebagaimana berikut ini:
Untuk memahami orang Melayu dengan mendalam, Swettenham berpendapat, seseorang itu harus tinggal di antara mereka, menghormati agama dan kepercayaan mereka, meminati kecenderungan mereka, harus bersifat toleransi dan jangan memandang sinis terhadap prasangka mereka, bersimpati dan membantu mereka ketika mereka dalam kesusahan dan kalau bisa tidak hanya berbagi kesenangan mereka tetapi juga risiko yang mereka hadapi. Hanya dengan cara ini saja seseorang dapat memperoleh kepercayaan dan keyakinan orang Melayu. Melalui keyakinan ini saja seseorang itu akhirnya bisa memahami hati budi orang Melayu, terutama bersifat batiniah itu.
Orang Melayu yang sebenarnya, adalah pendek, berbadan tegap dan gempal. Rambutnya lurus hitam, kulit sawo matang, hidung dan bibirnya tebal dan matanya cerah dan tampak cerdik. Tingkahlakunya lemah lembut dan mudah untuk didampingi. Orang Melayu bersifat curiga terhadap orang luar tetapi tidak menunjukkan sikap tersebut secara terbuka. Orang Melayu berani dan dapat dipercaya menjalankan kewajibannya dengan baik. Namun dia bersifat boros dan suka meminjam uang tetapi lambat membayarnya kembali. Dia sopan dan bijak berbicara, pandai berkias (dan mungkin juga menyindir), sering mengutip peribahasa dan kata-kata hikmah, pandai melawak dan bercanda dan menyukai kepada humor yang baik. Orang Melayu suka ambil tahu hal orang lain, terutama tetangganya. Jadi orang Melayu dikatakan kuat gosip atau suka menjaga tepi kain orang lain. Orang Melayu beragama Islam dan pada pendapat Swettenham ini menyebabkan mereka bersifat fatalistik, yaitu percaya kepada qada 'dan qadar (nasib dan rezeki ditentukan Allah). Tetapi pada saat yang sama mereka juga percaya pada hal-hal takhayul dan takhayul yang bertentangan dengan Islam. Dia tidak minum alkohol dan jarang sekali mengisap candu tetapi dia amat minat berjudi, apakah menyabung ayam atau permainan-permainan yang ada unsur taruhan.
Tentu orang Melayu adalah olahragawan. Mereka suka dan tertarik menangkap dan menjinakkan gajah. Mereka juga merupakan seorang nelayan atau penangkap ikan yang efisien. Dari satu segi orang Melayu konservatif, bangga dan megah terhadap negerinya dan masyarakatnya. Mereka menyanjung adat dan tradisi lama masyarakat Melayu. Mereka takut kepada Raja, hormat dan tunduk kepada kekuasaan. Orang Melayu memandang rendah kepada setiap reformasi dan sejauh mungkin akan menolak setiap pengenalan perubahan secara mendadak. Sebaliknya, jika mereka diberi waktu untuk memeriksa dan menelitinya dan perubahan tersebut tidak dipaksa ke atas mereka, mereka dapat diyakinkan tentang keuntungan dan manfaat yang dapat dicapai melalui reformasi-reformasi tersebut. Orang Melayu cepat mempelajari ilmu yang diajarkan kepadanya. Bagi Swettenham, jika orang Melayu ingin dan juga ambisius dia bisa menjadi seorang mekanik yang baik. Namun orang Melayu malas. Dia tidak memiliki perencanaan yang teratur di dalam hidupnya. Dia tidak tahu tentang ketepatan waktu termasuk juga waktu makannya. Padanya waktu itu tidak penting. Rumah orang Melayu tidak tersusun dan kotor tetapi dia mandi dua kali sehari. Dia juga suka berhias dan memakai pakaian yang rapi. Orang Melayu tidak toleran kepada setiap penghinaan. Baginya malu yang diterima hanya bisa dibersihkan dengan darah. Dia akan masam muka dan memendam rasa ketika kewibawaannya dan menghormatinya tersentuh atau tergores sehingga dia dikuasai oleh perasaan ingin membalas dendam. Jika dia tidak dapat membalas pada orang tersebut atau terkait dia akan mengancam orang pertama yang ditemuinya, tidak peduli pria atau perempuan, tua atau muda. Inilah yang dikatakan amuk. Semangat kesukuan kuat di kalangan orang Melayu. Dia taat dan setia kepada Raja, Penghulu dan pemimpin. Pemberian karunia oleh Raja kepada rakyat dan pemberian hadiah dari rakyat kepada Raja adalah satu praktek yang biasa.
Meskipun orang Melayu beragama Islam dan sanggup dipaku hidup-hidup dari menolak agamanya, orang Melayu bukannya menganggap agama orang lain rendah. Dia juga bukan seorang hipokrit. Kehidupannya akan mengalami siklus hidup berikut:
Pada masa kecil dia dirawat dengan baik, dia tidur bila dia suka dan makan ketika dia merasa lapar (elemen waktu tidak penting). Dia jarang dipukul atau dicambuk, oleh itu dia jarang menangis. Pada usia 15 atau 16 tahun dia rajin belajar dan dikirim mengaji Qoran bahkan mengaji dalam bahasa yang dia tidak mengerti. Pada umur di antara 16 sampai 25 tahun dia harus dihindari karena pada usia ini dia suka bersuka-sukaan, foya, boros, pemurah, suka berjudi, banyak terikat dengan utang, sering terlibat dalam melarikan istri tetangganya dan suka menonjol-nonjolkan dirinya . Setelah itu jika dia tidak melanjutkan dengan perangai buruknya, dia akan mencoba, dengan bantuan orang-orang yang lebih tua darinya, berusaha memantapkan posisi sosialnya. Jadi, ketika dia berusia 40 tahun dia akan menjadi seorang manusia yang cerdas (dan berpengalaman). Anak perempuan itu dibiarkan hidup bebas sampai usia 5 tahun dan kemudian diberi pakaian yang sempurna. Sejak itu dia dididik dan diasuh dalam membantu pekerjaan rumah dan dapur. Dia juga diajarkan turun ke sawah. Tujuannya untuk menyediakan menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Pada usia 15/16 tahun dia menyukai pakaian yang cantik dan juga sudah tahu memakai perhiasan. Gadis yang belum kahwin diasuh dan diajarkan untuk menghindari dari berhubungan dengan pria yang tidak ada tali persaudaraan dengannya. Setelah menikah orang perempuan Melayu mendapat kebebasan yang seluas-luasnya. Orang Melayu sangat mementingkan bangsa dan keturunan. Lelaki Melayu dapat kahwin empat dan dapat menceraikan isteri / isteri-isteri dan menggantikan mereka dengan istri yang baru. Jika dia mampu dia akan menggunakan kesempatan ini tetapi pria Melayu jarang-jarang memiliki empat orang istri pada satu waktu.
Orang Melayu menurut pandangan Hugh Clifford ("The Pople of the East-Coast" dalam buku, In Court and Kampung) dijelaskan di bawah ini.
Clifford adalah Residen di Pahang dan ia menceritakan tentang negeri-negeri Pantai Timur yaitu Pahang, Terengganu dan Kelantan. Meskipun negara-negara terdekat tetapi rakyat negeri-negeri ini jauh berbeda, baik dari segi penampilan, pakaian, dialek, karakter maupun kebiasaan. Orang Pahang, menurut Clifford, hanya menggunakan pikiran dan pikiran mereka untuk mencari jalan berkelahi, berkelahi, bercinta dan bercumbu dan berjudi, yang mereka tahu dan sadar dilarang oleh agama Islam. Orang Pahang, jelasnya, adalah seorang penyabung ayam dan pejudi yang sering terlibat dalam perkelahian. Dia memiliki perasaan bangga dirinya, bangsanya dan negaranya. Dia kurang arif, kurang agama dan kurang daya keintelektualannya sehingga dibuat orang Melayu lain bidalan tentang mereka: kecek anak Melaka; obrolan anak Minangkabau; tipu anak Rembau; bidaah anak Terengganu; penakut anak Singapura; pencelok anak Kelantan dan sombong anak Pahang. Namun demikian, orang Pahang juga banyak kualitas yang baik. Mereka jantan dan berani mati. Kelemahan mereka adalah di permukaan saja dan mereka jarang mau menyurukkan kelemahan ini. Mereka sombong! Mereka berpakaian indah dan sebagai penjudi sering boros. Mereka juga suka bertindak berdasarkan nafsu tanpa berpikir panjang tentang hasil atau dampak tindakan mereka. Mereka juga amat taat dan setia kepada Raja. Begitu juga taat setia mereka kepada seseorang atau orang yang dipercayainya, tegas. Hubungan ini adalah berbasis saling percaya di antara satu sama lain. Mereka selalu bergembira dan suka melawak dan bercanda dan bahan tertawa mereka adalah orang lain (suka menggoda dan mempermainkan orang lain). Mereka tidak suka membaca atau bekerja. Mereka juga tidak bisa dipaksa membaca Koran. Mereka juga hanya akan sembahyang setelah dipaksa. Mereka menghadiri shalat Jumat karena takut kena denda. Kalau bisa orang Melayu tidak mau bekerja dan tidak akan melakukan apapun pekerjaan walapun dibayar gaji atau upah yang tinggi dan lumayan. Dia akan melakukannya (kerja) ketika dia dikerah, yaitu atas permintaan dan suruhan orang-orang besar atau raja. Pekerjaan kerah tidak dibayar upah dan di dalam banyak kasus mereka harus membawa makanan sendiri. Kerja Raja dikelek sedangkan kerja sendiri diabaikan. Mereka akan mengerjakan pekerjaan kerah ini tanpa keluhan tampaknya itu adalah tugas hakiki mereka. Clifford melihat ini sebagai satu sifat yang bertentangan dengan jiwa orang Melayu itu. Dari satu segi, secara sukarela, orang Melayu malas bekerja meskipun imbalan yang dibayar lumayan tapi dari satu segi yang lain dia sanggup pula dipaksa bekerja dan menyerahkan tenaganya secara gratis.
Orang Terengganu pula jauh berbeda dari orang Pahang. Paling utama, mereka menyukai perdamaian dan harmoni. Kegiatan dan minat mereka adalah untuk bisnis dan perdagangan. Apa yang mereka inginkan adalah kebenaran dan kebebasan untuk mencari rezeki tanpa diganggu. Namun demikian, mereka tidak menunjukkan sikap fanatik dan setia membabi buta seperti yang ditunjukkan oleh orang Pahang, yang akhirnya (yaitu orang Pahang) terpaksa menanggung bermacam birokrasi, trik dan juga bencana dari Raja dan kerabat Diraja mereka sendiri. Bagi Clifford, orang Terengganu hanya tertarik untuk belajar, berdagang dan bertukang. Sejak kecil lagi dia dibesarkan dalam suasana buku, duit dan tawar menawar bisnis dan perdagangan. Dikatakan dia tahu memuji dan mengangkat tinggi nilai dan mutu barang yang akan dijualnya dan menawar atau menurunkan harga barang yang hendak dibelinya setelah dia pandai berbicara. Orang Terengganu dilahirkan dalam dunia bisnis dan perdagangan. Dia bisa dan sanggup berbohong saat berbisnis, tanpa segan dan silu ataupun malu sehingga mereka terkenal atau dikenal sebagai pembohong yang paling terkenal di Tanah Melayu.
Jika seorang anak Pahang dibesarkan dalam suasana perang atau rumor tentang perang, dan dia pula akan bercita-cita ketika besar nanti ingin menjadi seorang pahlawan terbilang, tetapi berbeda pula dengan anak Terengganu. Meskipun pria Terengganu memakai senjata tetapi dia kurang tangkas menggunakan senjata tersebut. Keris yang dipakai hanya sebagai pelengkap pakaian pria saja. Kondisi ini terjadi karena masyarakat Terengganu memberi sanjungan yang lebih dan memandang tinggi mereka yang berpendidikan atau yang memiliki keterampilan-keterampilan yang spesifik. Jelasnya orang Terengganu memuliakan mereka yang berpendidikan dan berpengetahuan baik yang menguntungkan mereka di dunia maupun akhirat. Bagi Clifford, orang pria Terengganu dibesarkan sebagai pengecut tetapi mereka tidak mau mengakui fakta ini. Pandangan Clifford ini mungkin tidak adil karena mencintai perdamaian dan tidak suka bertengkar bukanlah sifat orang yang pengecut. Sebaliknya ia menggambarkan seseorang yang ingin tinggal di dalam sebuah masyarakat yang madani.
Namun kinerja dan gambar orang Melayu Terengganu adalah lebih baik dari orang Melayu lain, bukan hanya di Pantai Timur tetapi juga di Semenanjung Tanah Melayu. Umumnya, seseorang anak Terengganu itu telah tamat membaca Koran sebelum pubertas lagi. Pada saat yang sama mereka juga tahu menulis dan membaca jawi. Jadi masyarakat Terengganu adalah masyarakat yang mementingkan ilmu. Namun demikian, orang Terengganu lebih terkenal karena keterampilan mereka dalam bidang kerajinan. Hasil tangan seperti barang tembaga, senjata dan juga pertukangan mereka adalah yang terbaik, tercantik dan terhalus di kalangan orang Melayu di Semenanjung Tanah Melayu. Begitu juga dengan hasil tenunan kain dan songket mereka. Mereka juga dikatakan pandai membuat barang-barang tiruan, misalnya, sorban yang diekspor setiap tahun ke Mekah dan dijual di sana sebagai barang lokal yang dihasilkan oleh Arab Saudi sendiri. Dari segi pakaian, pakaian orang Terengganu jauh berbeda dari orang Pahang. Kita bisa kenal orang Terengganu sebelum dia membuka mulutnya. Namun Clifford tidak menjelaskan apakah yang dimaksudkannya. Namun begitu, jika kita ingin buat asumsi mungkin pakaian orang Terengganu itu lebih rapi sesuai dengan pekerjaan mereka sebagai pedagang dan pedagang.
Orang Kelantan juga memiliki karakteristik mereka sendiri. Bagi mereka yang bertemu dengan orang Kelantan pertama kali mungkin tidak akan mengerti tentang tutur-katanya. Orang Kelantan juga tidak mengerti bahasa orang lain kecuali dialeknya sendiri. Rupa atau tingkat orang Kelantan sama saja; tidak begitu bersih baik dari segi penampilan maupun temperamen. Namun dia memiliki temperamen yang baik dan selalu bergembira. Orang Kelantan kuat dan gagah. Menurut Clifford, ada orang Kelantan yang dapat memecahkan pintu dengan kepalanya. Misalnya, seorang pria yang diberi gelar Awang Kepala Keras. Selain itu, dia juga bisa memikul beban yang berat, mengayuh perahu untuk beberapa jam dan bisa melakukan pekerjaan lebih dari orang Melayu lainnya. Perilaku orang Kelantan agak kasar dan tidak sensitif seperti orang Melayu lainnya. Mereka kurang peduli terhadap perasaan orang lain. Orang Kelantan berani tapi beraninya membabi buta tanpa memikirkan akan bahaya yang mungkin dihadapi. Bagi masyarakat lain di Pantai Timur (orang Pahang dan Terengganu) karakter baik orang Kelantan kewalahan oleh reputasi orang Kelantan sebagai pencuri, perampok atau penceluk. Saat merampok mereka dikatakan menggunakan senjata tajam yang dikenal sebagai parang jengok. Perempuan Kelantan lebih menonjol dari wanita-wanita lain di Tanah Melayu. Mereka sering terlihat di pasar apakah meniaga atau membeli. Mereka senang berbicara ramah dengan semua orang dan tidak menunjukkan sifat-sifat malu yang lazim ditunjukkan oleh perempuan Melayu yang lain. Ada kalanya kemesraan mereka khusus dengan pelanggan pria bersifat `flirtatious 'atau kemanja-manjaan. Di Kelantan, lelaki dan perempuan, lain cara berpakaian mereka jika dibandingkan dengan orang Melayu lainnya. Orang pria Kelantan tidak memakai baju atau celana sebaliknya mereka lebih nyaman memakai sarung. Kain sarung diikat singkat sampai ke lutut dan ketika duduk lutut mereka rentan. Orang perempuan Kelantan pula suka berkemban dan bagian bahu dan dada sering terkena. Cara berpakaian begini membuat orang lain menganggap orang Kelantan tidak beradat dan beradab sopan. Sebelum tahun 1888 orang Kelantan takut ke Pahang karena orang Pahang menganggap orang Kelantan itu hanya layak untuk menajamkan matakerisnya saja. Dalam kata lain orang Kelantan itu baik dibunuh saja. Seperti orang Melayu lain di Pantai Timur, orang Kelantan juga suka berjudi apakah berlaga ayam, kambing atau kerbau.
Pada keseluruhan bagaimanakah agaknya cara hidup orang Pantai Timur? Menurut Clifford, di Kelantan, Terengganu dan Pahang, cara hidup mereka hampir serupa. Di daerah pendalaman rakyatnya lebih lurus dan amanah, lebih rajin, mengalami prubahan yang sedikit dan hidup mereka sehari-hari berkisar pada remunerasi hidup semata-mata. Mereka juga cepat tua. Mereka bangun pagi, bekerja atau istirahat pada siang hari dan tidur setelah hari malam. Hidup mereka mudah dan sudah pasti membosankan. Hidup mereka sederhana dan kebanyakan mereka tidak mampu untuk menikah lebih dari satu. Penduduk yang tinggal di tepi pantai pula berbeda. Gosip dari istana, cerita-cerita tentang keberanian pahlawan, diskusi tentang ilmu dan sebagainya memenuhi masa hidup mereka. Bagi remaja pria, dayang-dayang dan gundek-gundek Raja kondisi dan pergaulan yang bebas menambahkan lagi kenakalan remaja mereka. Meskipun risikonya tinggi, remaja ini jarang-jarang ingin melepaskan kesempatan tersebut. Mereka yang tersedia berkendak dengan gundek Raja bolah dieksekusi.
Orang Melayu menurut pandangan Munshi Abdullah (Kisah Pelayaran Abdullah: diselenggarakan oleh Kassim Ahmad). Pelayarannya ke Kelantan, Abdullah telah sempat juga singgah di Pahang (Kota) dan Terengganu (Kuala Terengganu). Sebagai seorang etnografer dia telah mencatat dengan detail apa yang dapat diperhatikannya di tiga negara bagian di Pantai Timur ini. Catatannya ini menarik jika kita bandingkan perbedaan dan persamaan pandangan tersebut dengan apa yang ditulis oleh Hugh Clifford. Menurut Abdullah, negeri Pahang seperti sebuah dusun, penuh dengan tanaman yang menghijau. Tidak ada pasar, toko atau lorong untuk orang berjalan kaki.